Padangsidimpuan (15/5/2022), Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padangsidimpuan menyelenggarakan Seminar Ilmiah NasionalModerasi Beragama di Aula Gedung FTIK Lantai 2 pada pukul 08.30 WIB. Seminar Ilmiah Nasioanl ini bertema Moderasi Beragama sebagai Kunci Toleransi dan Kerukunan. Sebanyak 500 lebih peserta mengikuti kegiatan seminar yang dilakukan secara hibrid, terbagi atas luring dan daring terdiri dari mahasiswa setempat IAIN Padangsidimpuan dan mahasiswa dari Universitas lainnya. Dalam kesempatan kali ini Dr. Sumarto, M.Pd.I yang berkenan menjadi narasumber Seminar Nasional Ilmiah Moderasi Beragama merupakan Kepala Pusat Moderasi Beragama dan Kebangsaan IAIN Curup dan Muhazwar, M.Pd.I tampil menjadi Moderator di kegiatan Seminar Ilmiah Nasional Moderasi Beragama.

Ketua Panitia Seminar Nasional Moderasi Beragama, Dwi Maulida Sari, M.Pd dalam kesempatan kali ini menyampaikan bahwa dilaksanakannya Seminar dengan tema Moderasi Beragama bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung di dalam Moderasi Beragama serta mengaplikasikan nilai dan makna dari Moderasi Beragama.

Demikian pula kata sambutan yang disampaikan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang pada kesempatan ini diwakilkan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Lis Yulianti Syafrida Siregar, S.Psi, M.A menuturkan bahwa moderasi beragama menjadi isu penting dewasa ini. Keberagaman di Indonesia yang multikultural dengan berbagai etnis, budaya dan agama memerlukan moderasi beragama sebagai pondasi dalam menyikapi keberagaman yang ada di Indonesia.

Beliau menegasakan “vitalnya peran mahasiswa sebagai agent of change, dituntut untuk menjadi motor penggerak agen perubahan, menjadi fasilitator, menjadi pribadi yang mampu menyampaikan kepada masyarakat bahwa dalam kehidupan di Indonesia dengan kondisi yang multikultural dibutuhkan nilai-nilai moderasi beragama. Inilah salah satu latar belakang kegiatan seminar nasional ilmiah bertema moderasi beragama diadakan. Harapannya kita memiliki dan memahami kunci dari toleransi serta kerukunan,” tegas Beliau.

Kata sambutan kedua sekaligus pembuka Seminar Ilmiah Nasional Moderasi Beragama oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. Anhar, M.A menyampaikan bahwa tema moderasi beragama menjadi salah satu strategi dalam pembangunan karakter di Indonesia.

“Istilah moderasi (yang bermakna sikap sedang, tengahan, tidak berlebih-lebihan) dari kata moderate (Inggris) artinya 1) layak, sekedarnya, 2) cukupan, 3) sedang, 4) moderat, lunak. Padanan Arab yang disepakati untuk istilah moderasi ini adalah وسطية (wasathiyyah). Wasathiyyah al-Islam artinya Islam tengahan (Islam moderat). Dalam hadits disebutkan:خير الامور اوسطها (Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan). Umat Islam, dengan demikian adalah umat moderat (ummatan wasathan), karena watak ajaran agamanya memang moderat, tengahan. Oleh karena itu, jika pemahaman keislaman kita benar-benar genuin, maka kita akan menjadi muslim yang moderat,” tandas beliau.

Moderasi beragama sebagai kunci toleransi dan kerukunan, tentunya menjadi pemutus tali rantai radikalisme. Moderasi beragama sudah ada sejak dulu dan bukan sesuatu hal yang baru. Salah satu yang benar-benar menjadi pondasi berbangsa dan bernegara adalah pengetahuan akan nilai-nilai yang terkandung di dalam Moderasi Beragama.

Dr. Sumarto, M.Pd.I, Menuturkan nilai-nilai Moderasi Beragama menjadi kunci untuk meminimalisir sikap intoleran. “Moderasi beragama itu fleksibel, kalau kita belajar dari buku Kementerian Agama salah satu metode untuk moderasi beragama itu adalah insersi, yakni menyisipkan nilai-nilai moderasi beragama dalam berbagai matakuliah yang ada di kampus. Mengajak dosen untuk menulis yang berkaitan dengan moderasi beragama, sehingga mahasiwa mampu menjangkau banyak referensi yang mengakibatkan khazanah kita yang berkaitan dengan moderasi beragama semakin luas,” tegas Beliau.

Menjadi insan moderat dengan sikap keteladanan segera berbuat, misalkan dengan call for book chapter juga menjadi salah satu solusi yang dapat menjadi sarana berfikir moderasi beragama. Nilai dan prinsip moderasi beragama sudah sepatutnya untuk disosialisasikan kepada mahasiswa. Pemahaman akan pentingnya moderasi beragama dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dewasa ini mahasiswa sangat dekat dengan media sosial yang berarti media sosial juga dapat menjadi wadah untuk menyampaikan betapa pentingnya nilai-nilai moderasi beragama, betapa pentingnya hidup berdampingan dengan damai dan rukun.

“Terlaksananya kegiatan seminar ilmiah nasional moderasi beragama adalah bentuk keseriusan kita sebagai akademisi untuk tetap menumbuhkan sikap toleran, membangun sikap dan pandangan beragama yang moderat. Jangan sampai matinya kepakaran itu sampai terjadi di kampus-kampus kita,” tandas Dr. Sumarto, M.Pd.I.